Pages

Sunday, August 5, 2012

Anamnesa & Diagnostik Bedah Saraf

Anamnesa riwayat yang mendetil dan pemeriksaan tisik merupakan dasar dari diagnosis bedah saraf. Untuk pasien dengan gangguan sistem saraf, harus didapatkan riwayat yang akurat sekali saja, tetapi pemeriksaan neurologik harus sering diulang dan dicatat untuk mengetahui perjalanan penyakit dan untuk menentukan pentingnya diagnosis selanjutnya dan intervensi bedah.

Pemeriksaan diagnostik Foto polos vertebra berguna dalam evaluasi gangguan vertebra traumatik dan degeneratif. Mielografi dan skening CT pascamielogram tetap merupakan sarana pencitraan yang berharga dalam menilai integritas radiks saraf spinalis dan korda spinalis dalam trauma, penyakit vertebra degeneratif, dan neoplasma. CT merupakan pemeriksaan awal terpilih dalam evaluasi cedera kepala, perdarahan subarakhnoid, dan hidrosefalus. MRI adalah modalitas yang tidal sejajar untuk pencitraan sambungan kranial spinalis dan memberikan detil anatom yang sangat baik melalui neuraksis, membantu pcnilaian keterlibatan tulang yan, mungkin memerlukan CT. Angiografi MRI makin meningkat penggunaannya dalam menilai sistem sirkulatorius ekstrakranial (yaitu, karotis) dan intrakranial (yaitu, sirkulus Willisi). Untuk saat ini, bagaimanapun juga, angiografi serebri merupakan "standar yang terbaik" dalam diagnosis aneurisma dan AVM dan menyediakan sarana untuk pemakaian teknik intervensi yang canggih.

Teknik angiografi terapeutik ini meliputi dilatasi mikrobalon transfemoral dari aa. intrakranial vasospastik, oklusi fistula karotis-kavernosa dan embolisasi tumor, aneurisma dan AVM. Ultrasonografi bermanfaat dalam menilai hidrosefalus neonatal dan prosedur lokalisasi intraoperatif real-time. Tes neurofisiologik yang meliputi potensial bangkitan penglihatan, pendengaran dan somatosensorik, menyediakan bukti-bukti integritas sistem saraf selama bedah kranial dan spinal. EEG merupakan alat yang penting dalam diagnosis perioperatif dan sebagai indikator integritas fisiologik selama pembedahan sercbrovaskular. EMG/NCV sering digunakan dalam diagnosis lesi saraf perifer dan radiks saraf, keduanya untuk menentukan lokasi lesi dan menilai pemulihan dari cedera.

Wednesday, December 15, 2010

Prinsip Bedah Reseksi Pada Kanker Paru

Berikut Prinsip Bedah Reseksi:
1. Anestesia endotrakheal digunakan untuk pembedahan yang melibatkan paru yang membuka ruang pleural.
2. Dengan ansetesi endotrakheal memungkinkan untuk tetap menjaga ekspansi dan fungsi dari paru yang sehat ketika dada dibuka dan tekanan atmosfir memasuki ruang pleural.
3. Untuk memahami bedah reseksi dan tujuan dari selang dada dan sistem drainase tertutup, diperiukan pemahaman hal-hal berikut:

a. Fisiologi bernapas
1) Tekanan dalam ruang pleural (ruang antara pleura viseral dan parietal) adalah subatmosferik (kurang dari 760 mm Hg) dan disebut sebagai tekanan negatif.
2) Tekanan dalam ruang pleural biasanya 756 mm Hg dan turun menjadi 751 mm Hg sebelum inspirasi. Perubahan tekanan ini memungkinkan udara (tekanan atmosfer) untuk memasuki paru-paru.
3) Ketika ruang pleural dibuka melalui tindakan bedah atau akibat trauma dinding dada, tekanan atmosfer memasuki ruang pleural, dan paru-paru pada tempat tersebut menjadi kolaps.

b. Tujuan penggunaan selang dada dan sistem drainase tertutup

1) Setelah bedah reseksi paru (kecuali pneumonektomi), terpasang satu atau dua buah selang drainase ke dalam ruang pleural. Setiap selang dihubungkan dengan sistem drainase tertutup bertekanan negatif.
2) Sistem ini memungkinkan udara dan cairan mengalir dari ruang pleural dan mencegah udara atau cairan memasuki ruang pleural.
3) Pada semua bedah reseksi (kecuali pneumonektomi), bagian paru yang tersisa harus overekspansi dan mengisi ruang yang ditinggalkan oleh bagian paru yang direseksi.
4) Pembuangan udara dan cairan dari ruang pleural memenuhi dua tujuan dasar: (a) untuk membantu dalam ekspansi bagian paru yang tersisa ketika udara (tekanan positif) dan cairan mengalir keluar melalui selang drainase, dan (b) untuk membentuk kembali tekanan negatif dalam ruang pleural.

Tuesday, December 7, 2010

Malaria: Gambaran klinis dan penatalaksanaan

Terdapat empat spesies Plasmodium yang menyebabkan malaria pada manusia: virax, ovale, malariae, dan falciparum. Organismse ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Pada setiap saat, hampir 300 sampai 500 juta orang di seluruh dunia terinfeksi, dan penyakit ini menyebabkan 1 hingga 3 juta kematian per tahunnya.


Serangan malaria meningkat tiga hingga empat kali lipat selama dua trimester terakhir kehamilan dan 2 bulan pascapartum. Kehamilan meningkatkan keparahan malaria falsiparum, terutama pada wanita nulipara non-imun. Insidensi abortus dan persalinan prematur meningkat pada malaria. Lahir mati dapat disebabkan oleh infeksi pada plasenta dan janin. Parasit malaria memiliki afinitas terhadap pembuluh desidua dan mungkin mengenai plasenta seeara luas tanpa mengenai janin. Infeksi neonatus jarang terjadi, dan malaria kongenital timbul pada hampir 7 persen neonatus yang lahir dari ibu non-imun.

GAMBARAN KLINIS
Penyakit ditandai oleh demam dan gejala mirip-flu, termasuk menggigil, nyeri kepala, mialgia, dan malaise yang dapat terjadi pada interval tertentu. Pada pasien yang sudah kebal, gejala lebih ringan. Malaria dapat menyebabkan anemia dan ikterus, dan infeksi falsiparum dapat menyebabkan gagal ginjal, koala, dan kematian.

DIAGNOSIS
Diagnosis didasarkan pada gambaran klinis dan identifikasi organisme malaria intrasel pada apusan darah.

PENATALAKSANAAN
Obat-obat antimalaria yang sering digunakan tidak dikontraindikasikan bagi wanita hamil. Sebagian dan obat antimalaria baru memiliki aktivitas antiasam folat dan secara teoritis dapat ikut berperan menimbulkan anemia megaloblastik; namun, pada kenyataannya, hal ini tampaknya tidak terjadi. Klorokuin adalah terapi pilihan untuk semua bentuk malaria kecuali P. falciparum resisten-klorokuin dan strain P. vivax resisten yang baru muncul. Untuk malaria berat, klorokuin diberikan secara intravena. Bagi wanita dengan infeksi yang resisten klorokuin, dapat diberikan meflokuin secara oral.

Untuk malaria resisten yang parah, diberikan kina atau kuinidin intravena. Bagi wanita hamil yang bepergian ke daerah endemis malaria, dianjurkan pemberian kemoprofilaksis. Jika belum pernah dilaporkan adanya malaria falsiparum atau vivax resisten-klorokuin, profilaksis dimulai 1 sampai 2 minggu sebelum wanita yang bersangkutan masuk ke daerah endemi. Klorokuin, 300 mg bentuk basa, diberikan per oral sekali seminggu, dan hal ini dilanjutkan sampai 4 minggu setelah kembali ke daerah nonendemik. Bagi wanita hamil muda, perjalanan ke daerah yang endemik untuk strain resisten-klorokuin tidak dianjurkan, dan setelah itu yang bersangkutan dapat diberi profilaksis meflokuin.

Pustaka
Obstetri Williams

Saturday, December 4, 2010

Bagaimana Gejala Hipoglikemia?

Bagaimana Gejala Hipoglikemia?
Keluhan dan gejala hipoglikemia dapat bervariasi, tergantung pa¬da sejauh mana glukosa darah turun. Keluhan hipoglikemia pada dasarnya dapat dibagi dalam dua kategori besar, yaitu:

1. Keluhan akibat otak tidak mendapat cukup kalori sehingga mengganggu fungsi intelektual, antara lain sakit kepala, kurang konsentrasi, mata kabur, capek, bingung, kejang, atau koma.
2. Keluhan akibat efek samping hormon lain (adrenalin) yang berusaha menaikkan glukosa darah, yaitu pucat, berkeringat, nadi berdenyut cepat, berdebar, cemas, serta rasa lapar.
Pada awalnya, ketika glukosa darah berada pada tingkat 40-55 mg/dl, pasien diabetes mengeluh:
- Berkeringat dingin
- Gemetar
- Mata kabur
- Merasa lemah
- Merasa lapar
- Pusing dan sakit kepala
- Nervous dan tegang
- Mual
- Jantung berdebar
- Kulit dingin

Bila glukosa darah di bawah 40 mg/dl, pasien akan merasa:
- Mengantuk
- Sukar bicara
- Seperti orang mabuk
- Bingung.

Keluhan atau gejala gawat yang terjadi bila glukosa darah di bawah 20 mg/ dl adalah:
- Kejang
- Tidak sadarkan diri
- Meninggal.

Referensi
Segala Sesuatu yg Hak Ttg: Diabetes Oleh Hans Tandra

Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM)

Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM) adalah suatu penyumbatan menetap pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh emfisema atau bronkitis kronis. Sebagaimana dikemukakan oleh American College of Chest Physicians / American Society, PPOM didefinisikan sebagai sekelompok penyakit paru-paru dengan asal yang tidak jelas, yang ditandai dengan perlambatan aliran udara yang bersifat menetap. Penyebab paling sering memang bronkitis kronis dan emfisema paruparu.

PPOM lebih sering menyerang laki-laki dan kerapkali berakibat fatal. PPOM juga lebih sering terjadi pada suatu keluarga sehingga diduga ada faktor yang diturunkan. Bekerja di lingkungan yang tercemar oleh asap kimia atau debu yang tidak berbahaya, bisa meningkatkan risiko terjadinya PPOM.Tetapi kebiasaan merokok pengaruhnya lebih besar dibandingkan dengan pekerjaan seseorang, dimana sekitar 10 -15% perokok menderita PPOM.

Angka kematian karena emfisema dan bronkitis kronis pada perokok sigaret lebih tinggi dibandingkan dengan angka kematian karena PPOM pada bukan perokok. Sejalan dengan pertambahan usia, perokok sigaret akan mengalami penurunan fungsi paru-paru yang lebih cepat daripada bukan perokok. Semakin banyak sigaret yang dihisap, semakin besar kemungkinan terjadinya penurunan fungsi.
Emfisema dan Bronkitis Kronis.

Sebagaimana dikemukakan di atas, ada dua penyebab dari penyumbatan aliran udara pada penyakit ini, yaitu emfisema dan bronkitis kronis.
Emfisema adalah suatu pelebaran kantung udara kecil (alveoli) di paru-paru, yang disertai dengan kerusakan pada dindingnya. Dalam keadaan normal, sekumpulan alveoli yang berhubungan ke saluran napas kecil (bronkiolt), membentuk struktur yang kuat dan menjaga saluran pernafasan tetap terbuka. Pada emfisema, dinding alveoli mengalami kerusakan sehingga bronkioli kehilangan struktur penyangganya. Dengan demikian, pada saat udara dikeluarkan, bronkioli akan mengkerut. Struktur saluran udara menyempit dan sifatnya menetap.

Bronkitis kronis adalah batuk menahun yang menetap, yang disertai dengan pembentukan dahak dan bukan merupakan akibat dari penyebab yang secara medis diketahui (misalnya kanker paru-paru). Pada saluran udara kecil terjadi pembentukan jaringan parut, pembengkakan lapisan, penyumbatan parsial oleh lendir dan kejang pada otot polosnya. Penyempitan ini bersifat sementara.
Adanya bahan-bahan iritan menyebabkan peradangan pada alveoli. Jika suatu peradangan berlangsung lama, bisa terjadi kerusakan yang menetap. Pada alveoli yang meradang, akan terkumpul sel-sel darah putih yang akan menghasilkan enzim-enzim (terutama neutrofil elastase), yang akan merusak jaringan penghubung di dalam dinding alveoli.

Merokok akan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut pada pertahanan paru-paru, yaitu dengan cara merusak sel-sel seperti rambut (silia) yang secara normal membawa lendir ke mulut dan membantu mengeluarkan bahanbahan beracun.di

Tubuh menghasilkan protein alfa-1 -anti tripsin, yang memegang peranan penting dalam mencegah kerusakan alveoli oleh neutrofil estalase.
Ada suatu penyalcit keturunan yang sangat jarang terjadi, dimana seseorang tidak memiliki atau hanya memiliki sedikit alfa-l-antitripsin sehingga emfisema terjadi pada awal usia pertengahan (terutama pada perokok).

Program latihan dapat dilakukan di rumah. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup dan kemandirian penderita, menurunkan frekuensi dan lamanya perawatan di rumah sakit dan meningkatkan kemampuan berlatih, meskipun fungsi paru-parunya belum pulih sempurna.

Untuk melatih kaki dapat dilakukan latihan sepeda statis, naik-turun tangga dan berjalan. Untuk melatih lengan dapat dilakukan latihan angkat beban. Untuk penderita dengan kekurangan alfa-l-antitripsin yang berat, diberikan protein pengganti melalui pemberian protein melalui infus setiap minggu. Pada penderita dengan emfisema yang berat, bisa dilakukan pembedahan yang disebut operasi reduksi volume paru-paru. Prosedurnya rumit dan penderita harus berhenti merokok setidaknya enam bulan sebelum pembedahan dan menjalani program latihan intensif. Pembedahan akan memperbaiki fungsi paru-paru dan kemampuan berlatih.

Referensi
Waspada Penyakit Tidak Menular Oleh Dr. ANIES MKES PKK